Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Tetapi berlari. Bokep china Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ia menyenggol kepala juniorku. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Ia menekan-nekan agak kuat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Sial. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Aku tersetrum. Bodoh, bodoh, bodoh. Ah bodoh.




















