“Engga apa-apa”, katanya ringan. Pinay porn Kepalaku menggeleng-geleng. Well… berbeda dengan yang namanya rakus, loh. Aku geli sendiri. Sini bajunya aku bayar dulu.”
Aku pun berdiri di depan counter siap melakukan transaksi pembayaran. Di perjalanan yang lumayan jauh dan macet itu, kita mengobrol panjang lebar mengenai apa saja, kecuali mengenai seks-nya.Sesampainya di butik, aku tahu persis di mana letak baju itu. “Aku memang ingin kasih tahu kamu…” katanya menatapku. Tapi ternyata aku harus menunggu lama sekali di lobby. Aku lapar banget. Aku merasa tidak nyaman, well, at least tidak di tempat begini. Aku tidak begitu yakin jika aku harus menurutinya atau menolaknya mentah-mentah. Ternyata tetap seindah kemarin dulu. “Khristi, nanti kita lanjutkan di rumahku, setelah dinner.” katanya sungguh-sungguh.Kelvin keluar dulu. Aku melotot, protes.




















