Dan pelan-pelan tangan Iban mengelus susuku yang sudah keras. Bokep “Iban, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Aduh enak sekali rasanya. Sampai di senayan, Iban memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya.Dan setelah Iban menghentikan mobilnya, tiba-tiba Iban langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak. “Kenapa bisa begitu,” balas Iban. Iban sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. “Ros, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”
“Terserah kamu Iban, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Iban.Kemudian Iban meniduriku yang sudah




















