Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Bokep china Sampai ia selesai mengelap bagianbelakang pahaku dan berdiri. Aku menanti dengandebaran jantung yang membuncahbuncah. Ia menekannekan agak kuat. Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Wanita muda itu mengikuti di belakang.Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Wien, pasien menunggu, katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bodoh amat. Aku tiduran sambil baca majalahyang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu.Sekenanya saja kubuka halaman majalah.Tunggu ya..! Sekarang sudahlebih lancar. Ya tidak apaapa,hitunghitung olahraga. Tunggu apa lagi. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.Tidak pasang wajah perangnya.Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloidmenutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Masak tidak ada yang bisadibicarakan. Membuang napas. Eh..,kesempatan, kesempatan, kesempatan. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokandepan, kurang lebih 100 meter lagi. Toh masih ada hariesok.Aku bergegas naik angkot yang melintas.




















