Dia menyentuh dagu saya, sambil bilang,“Denok, angkat kepalamu, lihat aku.” Saya nurut. Pinay porn Juragan terus-terusan melihat sekujur tubuh saya, sambil memuji.“Ayo dong, nggak usah ditutupin,” kata Juragan. Enak kan?”“Ahn…” desah saya karena keenakan pentil saya dimain-mainkan, akibatnya omongan saya sudah nggak terkendali,“Iya Juragan… saya suka dicium kayak tadi…”“Bener? Dan saya pun jadi makin akrab dengan mereka semua.Saya seperti nyimpan semua rahasia mereka. Dengan bermodal pakaian dan perlengkapan yang kami bawa dari kampung, serta radio tape bekas dan kaset-kaset musik tradisional yang kami beli dari pasar loak dengan sisa uang, mulailah kami berdua menjadi penari jalanan.Waktu gadis-gadis seumur saya yang di kota sedang siap-siap ujian akhir SMA atau menjalani tahun pertama kuliah, dan yang di desa menunggu dijodohkan oleh orangtuanya, saya mulai menjalani kehidupan baru, menjajakan keahlian seni tari bersama Simbok. Yang jelas saya sungguh menikmati saat-saat bersama Juragan. Atau kamu jualan aja.”“Saya sekarang juga lagi kerja, Juragan,” saya jengkel tapi tidak berani menunjukkan; sepertinya Juragan tidak mau meminjamkan uang.




















