Alamak.., jauhnya. Ataukesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupiwajah? Pinayflix Apa katanya nanti? kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku masihtermangu. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Ia terusmengelap pahaku. Lalu ia memijat lutut. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernyaada keringat sudah terbayang. Pijitan turun ke perut. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuiltempat duduk.Terima kasih, ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkanlagi, sehingga tidak perlu curicuri pandang meliriklehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehinggaterlihat garis bukitnya.Saya juga tidak suka angin kencangkencang. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Kalau potong rambutya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ayo cepat ia hampirselesai membersihkan belakang paha. Tapi mengelapdengan handuk hangat sisasisa cream pijit yang masihmenempel di tubuhku. Aku masihmematung. Angin meneroboskencang hingga seseorang yang membaca tabloidmenutupi wajahnya terganggu.Mas Tut..




















