Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok. Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Bokep india Aku serius soal ini. Dia punya usaha untuk hidup. Dia punya usaha untuk hidup. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar. Dia menjual, bukan mengemis. Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Anak laki-laki itu mengangguk saja. Ketika matahari bersinar, aku menggosong. Aku kini mulai bingung. Beberapa di antara mereka malah lebih menakutkan daripada hantu-hantu yang bergentayangan di rumah-rumah tua. “Sudah dapat banyak?”
“Belum. Atau seorang lelaki berjaket jins yang memayungi seorang perempuan yang jelas-jelas memakai jas hujan. Aku tahu anak itu pasti bekerja di malam begini karena suatu keperluan yang mendesak, atau itu memang pekerjaannya demi membantu biaya sekolah. Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Pikiranku mendadak kacau. Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut.




















