Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Bokep Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Angin menerobos dari jendela. Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Dari perut turun ke paha. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Jam berapa aku berangkat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Tamat.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Tetapi, bayangan itu terganggu. Ke bawah lagi: Turun. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Mobil melaju. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya.




















