Aku duduk di belakang, tempat favorit. Indian Porn Mobil melaju. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Come on lets go! Aroma asli seorang wanita. Aku masih mematung. Garis setrikaannya masih terlihat. Bau tubuhnya tercium. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ah masa bodo. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”
Semua penumpang menoleh ke arahku. Si Junior melemah. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Tetapi berlari. Ia kerja di sana? Ke bawah lagi: Turun. Ayo..!Aku masih diam saja. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku duduk di tepi dipan. Tapi ia dingin sekali. Pijitan turun ke perut. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Hap. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Bahannya




















