Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Bokep barat Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Tapi Abi kan manusia biasa. Kuperhatikan ada inisial huruf M tertulis di sandal jepit itu. Dug! Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Air mataku jatuh tanpa terasa. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Piring-piring kotor berpesta-pora di dapur, dan cucian, wouw! “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Air mataku jatuh tanpa terasa. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah?”Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”Sedang aku? Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Selera makanku mendadak punah. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku.




















