Aku dan Mamat pun segera balik ke kamar ke dua. Bokep indo Langsung saja ku jambak rambutnya yang panjang dan ku ciumi bibirnya dengan paksa. Aku hanya memainkan belati ku saja, dan nampaknya dia pun mengerti. “Bro, pulang saja dulu, biar aku tunggu di sini…” aku tidak mau merepotkan Mamat yang sudah seperti saudaraku sendiri. “Akkuu taak pandaaii menaariii…” jawabnya sambil memegangi perutnya yang sepertinya masih terasa sakit. “Tidak akan ku sakiti lagi asal kamu mau menuruti perintahku..” pesanku dengan mendekatkan belati di lehernya. Aku pun menjambak rambutnya dan menariknya agar dia bangun dan berdiri. Aku merasa hidup ini sangat fana. “Aku masih pesimis bro… Aku kan belum mapan, apa dia mau dengan aku?…” jawabku. “Yah, jalan-jalan saja neng…” jawabku. “Tapi…” belum sempat selesai bicara, Rianti sudah menjauh, dan aku tidak mungkin mengejarnya melewati gerbang yang dijaga oleh security, apalagi pakaian ku lusuh penuh oli begini.




















