Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Apakah perlu menhitung kancing. Bokep jepang Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Kring..! Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Ia tersenyum ramah. Ia memulai pijitan. Come on lets go! Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Wajahku mulai panas. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aroma asli seorang wanita. Ia terus mengelap pahaku. Ia tepat berada di tengah-tengah. Aku masih termangu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon.




















