Aku masuk lagi ke ruang produksi. Mukaku langsung terasa panas. Bokep barat Payudaranya yang kecil menggesek pelan di kedua lutuntuku. “Dimas, biarian aja. Nikmat banget. Kamu kok pinter banget sih…”, kata Mbak Titis manja. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan penisku. “Ibu cantik”, jawabku pendek. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.Selang 1 jam, Ibu Titis udah nyampe lagi di studio. Siapa tau Mbak Titis minta ditemenin. Dia adalah istri bosku. Pengen rasanya menyentuh, meremas, mengulum putingnya. Dudukku menjadi tidak tenang. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. “mas.. Mimpiku jadi kenyataan.Kulirik arlojiku, udah jam 24.40. “Sekarang mas Dimas tetep duduk aja dan jawab pertanyaan ibu”, perintahnya sambil tetep tangan kanannya menggenggam penisku. Aku bayangkan ibu Titis dengan rambutnya yang sebahu, bibirnya yang selalu merah. Entah kenapa, bayangan payudara Ibu Titis tiba-tiba nyantol lagi di kepalaku.




















