Cahaya mulai menggerayangi ruangan. Aku menemukan sebungkus lilin, dan menyalakannya dengan korek api yang tergeletak di sebelahnya. Pinayflix Lelaki itu melambai padaku ketika aku memperhatikannya. Mbak Marissa kembali ke rumahnya lewat pintu belakang jam 5 pagi. Hujan masih turun. Sering diam-diam aku menatapnya dari kejauhan manakala ia bekerja di taman kecil kebun di depan rumahnya. Aku menatap lapisan awan hitam itu sejenak. Ia mendekat dan melepaskan tangannya dari dadanya. Aku menatap lapisan awan hitam itu sejenak. Mbak Marissa sesekali mengangkat kepalaku dan mengulum mulutku dengan beringas berkali-kali.“Kamarmu! Kami pindah kemari tiga hari lalu.Kami mau melapor pindah,” kata lelaki itu sopan. Mendidik dadaku merasakan tangannya mendarat di pundakku. Ini membuatnya menggelinjang-gelinjang, mengerang, mendesah dan merasakan nikmat luar biasa dalam tindihanku.Dan kesempatan itu tak kusia-siakan. Kalau melihat terus seperti itu, ntar kepingin lho?” seloroh Mbak Marissa dengan suara lembut menggoda.Dan entah kenapa aku merasa tak terlalu kuat menahan




















