”Kalau masih belum hamil juga, aku mau kok mengulanginya lagi.” sahut Bang Irul. “Kenapa musti malu? Bokep HD Baru seminggu kemarin selesai dan bisa ditempati. “Kenapa?” suaraku gemas. Rasa sungkan dan malu yang tadi masih menggelayuti hatiku, kini hilang sudah. Kamu duduk disini,” dia menunjuk kursi di sisi ranjang. “Lihat sini. Bukan dia saja yang menginginkan seorang bayi.“Aku juga menginginkannya, Ma.” teriakku pelan pada bantal yang sudah separuh basah.Dengan mata sembab, kuangkat telepon yang berdering kencang di ruang tengah. “Kukira cuma bercanda.”
“Lho, emang kamu mau kalau beneran?” dia memasang wajah bloon. Dia menatap kepergianku sambil mengusap-usap bibirnya yang berdarah karena gigitanku. Dengan begitu eksotis kami saling mengulum, menjilat dan bertukar air liur. Apalagi ketika kemudian kurasakan sentuhan lembut jemari Sita di pundakku, untuk memberikan dukungan, aku pun jadi tidak malu lagi untuk membalas permainan lidah suaminya di mulutku. Memekku terasa gatal sekali.Bang Irul pun menuruti kata-kata istrinya. Kebisuan yang ganjil dengan cepat beredar diantara kami.“Ayo, katanya udah siap?” tagihku melihat kediamannya.Bibir mas Danu kembali bergerak-gerak… lalu lagi-lagi terdiam.













