Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku? “sstt…, hh…, sstt…”, mulutnya berdesis seperti ular. Bokep china Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. Sementara punyaku sudah tegang keras. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, “oohh…, sshhtt…, uugghh…, sshhss…, sshhiitt…, aacchh…, oouuhh…”, nafasnya tidak lagi teratur. Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar. “Siapa takut…”, jawabnya tidak mau kalah juga.Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, “Wan, disini ajah…, kayaknya losmennya bagus tuh”. Dia tanya lagi sambil bercanda, “Kalo aku kasih kesempatan gimana?”. “Kalo gitu bukti’in!”, kata Gita. Terus dia berkata, “Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in…, OK?”. “Hhmmhh…, uugghh…, sstt”, cuma itu yang dia katakan.Ciumanku sudah ‘bosan’ di leher. Aku mulai turun.




















