Aku tidak tahan. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Pinayflix Ke bawah lagi: Turun.Ke bawah lagi: Tidak. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Shit! kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Lihatlah iatadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Aku tertipu. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagiantepi celana dalam. Lha wongMbak Wien menutupi wajahnya begitu. Ia memulai pijitan. Membuatku tidakberani. Lagi pula percuma,tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. katanya.Halo..? Nampak ada perubahan besar pada Wien. Hap.Mau pijit lagi..? Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jaritangannya. Aku langsungmemasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomornomornya. Aku masihmematung. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makinterbakar. katanya menggoda, menunjukJuniorku.Darahku mendesir. Wajahkumerah padam. Atau apalah? Nafasnya tercium hidungku. Junior berdenyutdenyut. Iatersenyum. meloncat begitu saja katakata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkotdengan seorang wanita, separuh baya lagi.




















