Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Aku tidak peduli Bu Tadi megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Bokep china Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aku tersenyum kecut.“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Nia itu anak kami.“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. bikinnya khan jalan terus.” godaku.“Ooh apa, ooh. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Pikiranku melambung, melayang-layang. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rina (nama istriku). Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Bu Tadi walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.Keluarga Pak tadi sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Kupercepat lagi dengan penuh gairah. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Kepalanya disandarkan di dadaku.“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Pikiranku melambung, melayang-layang. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Sebagai anak belia yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.Pada suatu malam minggu aku giliran ronda.










