Astaga. Bokep indo Tiap kali dia berkata begitu, dia selalu menyertakannya dengan merendahkan bahu. Aku kini mulai bingung. Anak itu kembali menyodorkan jualannya, tapi kini cara berdirinya kurang stabil. Anak laki-laki itu juga ikutan merokok. Beberapa orang lainnya menghakimi supir mobil, menghajarnya hingga biru-biru, termasuk mobilnya yang dibikin tambah penyok. Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Ketika hujan datang, aku membasah. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah. Ketika hujan datang, aku membasah. Kita ke sana!” Salah satu anak berambut keriting mengajak anak laki-laki itu ke suatu tempat. Siapalah aku, aku hanyalah tiang listrik yang mengadu nasib di jalan raya.,,,,,,,,,, Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri. Apa yang ingin mereka lakukan? Meskipun hujan membuatku gigil, atau panas yang datang tak tanggung-tanggung.




















