Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Kaki disandarkan di dinding. Bokep rusia Napasnya tersengal. Jendela kubuka. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Lalu mengangkang.“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.“Ah.. Ini kesempatan kedua. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Suara itu lagi. Aku masih di atas angkot. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Bayar arisan. Sial. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tahu di mana ruangannya. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Langkahku semangat lagi. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Suara itu lagi. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku.




















